GET TO KNOW! ABOUT THE APPLICATION OF DESIGN IN LIFE



PERAN DAN REFLEKSI DESAIN DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

          Desain adalah cara berpikir karena mampu membentuk bagaimana diri saya dalam melihat masalah, memahami orang lain, dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Seiring proses belajar yang saya jalani, saya juga menyadari bahwa desain tidak hanya berfokus pada visual atau estetika semata, tetapi juga melatih saya untuk lebih peka terhadap situasi, konteks, dan orang-orang atau sesuatu yang mungkin terlibat di dalamnya. Desain mengajarkan saya untuk tidak melihat sesuatu secara terburu-buru, melainkan mencoba memahami alasan di baliknya.

          Salah satunya adalah ketika melihat sebuah masalah, saya tidak lagi bertanya bagaimana tampilannya, tetapi apa yang sebenarnya sedang terjadi dan siapa yang terdampak oleh situasi tersebut. Saya belajar untuk menahan diri sebelum memberi solusi, lalu mencoba memetakan persoalan secara lebih utuh.

          Dulu, saya mengira desain itu hanya berkaitan dengan visual, seperti warna, tipografi, layout, atau estetika. Memiliki pemikiran boleh pakai warna apa saja yang penting bagus, bisa campur font apa saja yang penting rapi dan lain sebagainya. Seiring proses belajar, saya memahami bahwa desain adalah proses merancang solusi. Setiap karya desain lahir dari pertanyaan: masalah apa yang ingin diselesaikan? Desain ini untuk siapa? Digunakan dalam situasi apa? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat saya terbiasa berpikir sistematis dan kritis sebelum bertindak.

          Seperti pada waktu saya menempuh semester satu, dalam mata kuliah Nirmana 2D yang mana saat itu tugas yang harus saya kerjakan adalah mengaplikasian warna pada daun yang kemudian di tempel di kertas. Hal ini memerlukan pengerjaan ekstra dan teliti agar tekstur tetap terlihat dan warna juga masih bisa dipandang.

          Saat itu adalah hari pemilihan desain final di kelas. Mahasiswa maju bergantian untuk mempresentasikan karyanya dan menentukan desain mana yang akan dipilih. Namun disana saya menyadari bahwa banyak desain hanya diterima dari segi bentuk daunnya saja, sementara percampuran warna yang dibuat justru tidak digunakan. Saya sempat berfikir mengapa demikian? Jawabannya karena percampuran warna akan lebih baik jika melalui skema warna yang ada, baik itu menggunakan skema warna complementari, triadic, atau analogus. Karena dari percampuran warna itu juga akan menghasilkan hasil dari warna yang seimbang  Dari sana saya belajar bahwa warna sangat berpengaruh terhadap keseimbangan sebuah desain. Hal itu juga membuat saya lebih berhati-hati dan lebih sadar bahwa setiap elemen dalam desain, sekecil apa pun, memiliki peran penting dalam membangun keseluruhan makna.

          Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa desain yang baik tidak hanya yang “bagus dilihat”, tetapi juga relevan dan tepat dalam kegunaannya. Proses riset, observasi, dan memahami konsumen atau pengguna menjadi bagian penting. Akhirnya saya mulai terbiasa melakukan pendekatan kecil seperti bertanya pada teman, mengamati kebiasaan orang, atau membaca konteks sosial sebelum membuat keputusan desain. Tanpa sadar, pola ini juga terbawa dalam kehidupan sehari-hari. Saya menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan tidak mudah mengambil kesimpulan sepihak.

          Desain juga memengaruhi cara saya dalam melihat masalah. Ketika menghadapi persoalan di kampus, misalnya dalam kerja kelompok atau organisasi, saya mencoba memetakan masalahnya terlebih dahulu. Apa akar persoalannya? Siapa saja yang terlibat? Apa kemungkinan dampaknya? Cara berpikir ini sebenarnya mirip dengan meyusun kerangka desain, seperti memahami masalah, mencari alternatif solusi, lalu memilih yang mana sekiranya mampu menjawab persoalan tersebut.

          Pengalaman lain yang membentuk cara berpikir saya terjadi saat saya menjabat sebagai bendahara di Himpunan Mahasiswa Desain Grafis tahun lalu. Saya terpilih menjadi bendahara untuk SAMBA (Sambut Mahasiswa Baru), yaitu kegiatan ospek fakultas di jurusan saya. Dalam program kerja ini, saya bertugas bersama satu teman dari divisi pengaju proker. Awalnya saya merasa semuanya berjalan baik-baik saja. Alur keuangan terasa teratur, pencatatan aman, dan ritmenya terkendali.

          Setelah acara selesai, saat masa penyusunan LPJ tiba, saya harus memastikan setiap pengeluaran sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan. Mendekati deadline, revisi demi revisi datang dan sebagian besar harus saya perbaiki sendiri. Sekali lagi muncul pertanyaan yang sama dalam diri saya: mengapa saya yang harus mengerjakan semuanya? Mengapa bukan kami berdua?

          Seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa persoalan utamanya bukan pada pembagian tugas, melainkan pada komunikasi. Saya tidak secara terbuka membicarakan revisi dan beban kerja tersebut dengan rekan saya. Saya mengasumsikan bahwa ia sudah tahu, padahal belum tentu demikian. Dari pengalaman ini saya belajar bahwa dalam sebuah sistem, termasuk dalam desain, komunikasi adalah bagian dari perancangan itu sendiri. Tanpa koordinasi yang jelas, sebuah sistem sekecil apa pun juga akan timpang.

          Dalam konteks yang lebih luas, desain memiliki peran penting dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat. Contohnya, desain bersisi informasi yang dapat membantu menyampaikan pesan dengan lebih jelas, desain kampanye sosial dapat meningkatkan kesadaran publik, dan desain produk dapat mempermudah aktivitas sehari-hari.

          Sebagai mahasiswa desain, saya menyadari bahwa setiap keputusan dalam visual juga membawa dampak. Seperti warna bisa memengaruhi emosi, kata-kata bisa membentuk persepsi, dan tata letak bisa menentukan apakah informasi dipahami atau diabaikan. Oleh karena itu, saya merasa penting untuk selalu mempertimbangkan aspek etika dalam setiap proses desain.

          Salah satu momen yang membuat saya lebih sadar akan tanggung jawab sebagai desainer adalah ketika saya melihat promosi dari Mixue di Instagram dengan tulisan “Buy 1 Get Amplop Hijau”. Sekilas terlihat menarik dan menguntungkan, apalagi amplop hijau identik dengan THR. Namun setelah saya perhatikan, tidak ada penjelasan yang jelas mengenai isi dari amplop tersebut. Dari situ saya menyadari bagaimana sebuah kalimat sederhana bisa langsung memengaruhi keputusan seseorang tanpa mereka benar-benar berpikir panjang.

          Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa desain komunikasi memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, sehingga sebagai calon desainer, saya perlu mempertimbangkan aspek kejelasan dan kejujuran dalam setiap pesan yang dibuat.

          Pada akhirnya, pengalaman-pengalaman kecil seperti itu yang membuat saya sadar bahwa desain bukan hanya soal membuat sesuatu terlihat baik, melainkan tentang menyusun logika, membangun empati, dan menanamkan tanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil.

 

Komentar

Postingan Populer